Hubungan Ekonomi Indonesia-Laos

Diperbarui pada 07 November 2014

Hubungan Ekonomi Indonesia-Laos

4Pada tanggal 4 November 2014 telah diadakan pertemuan Indonesia-Laos Investors Meeting” yang diselenggarakan oleh KBRI Vientiane di Hotel Mercure, Vientiane. Pertemuan yang bertujuan untuk meningkatkan hubungan ekonomi kedua belah pihak dengan cara memasukan investasi Indonesia ke Laos ini dihadiri oleh sekiranya 50 peserta. Diantara pesertanya merupakan anggota Lao National Chamber of Commerce and Industry, Perwakilan kantor Gubernur Provinsi Savanakhet dan tak lupa wartawan lokal. Duta Besar RI dalam sambutannya memaparkan bahwa “sister cooperation by sector” merupakan salah satu cara meningkatkan kerjasama ekonomi. Garuda Maintenance Facility (GMF) adalah satu dari sekian banyak contohnya. GMF bekerjasama dengan Lao Central Airlines dalam perawatan spare part pesawat dan dengan Lao Airlines dalam rangka memberikan pelayanan perawatan pesawat. Pertemuan ini juga merupakan salah satu cara untuk mempersiapkan ASEAN Economic Community (AEC) 2015.

Dalam pertemuan tersebut dipaparkan bahwa investasi di Laos memiliki kelemahan dan kelebihan. Kelemahannya terletak pada tidak adanya penerbangan langsung Indonesia-Laos, informasi terbatas mengenai investasi Laos, kendala bahasa dan rendahnya infrastruktur dibandingkan dengan Negara ASEAN lainya. Kelebihannya adalah Laos berbatasan langsung dengan lima Negara Asia yang mana akan mengurangi biaya transportasi ekspor ke Negara sekitar, terdapat banyak daerah luas di Laos yang bisa dijadikan lahan pertanian, Mr. Bouphan Souvannavong dan Mr. Ong Ching Chai menjelaskan bahwa Laos memiliki 9 Special dan Specific Economic Zone yang dibuka untuk kegiatan perekonomian, Laos juga membuka kesempatan besar bagi investor hotel, restauran, hiburan, pendidikan, rumah sakit, hydropower dan masih banyak lagi mengingat negera ini adalah Negara berkembang.

Mr. Ikmal Lukman dan Mr. Juan Gondokusumo dalam presentasinya menyatakan poin penting terkait investasi Laos adalah adanya data mengenai potensi-potensinya, hal ini guna memudahkan investor Indonesia untuk berinvestasi. Food security contohnya, bisa dijadikan bentuk kerjasama antara Indonesia dan Laos. Dari 50 negara yang melakukan investasi di Laos, Negara kita menduduki posisi ke 16. Dalam pertemuan tersebut, BKPM turut serta membawa pengusaha yang berminat dan berpotensi bekerjasama di Laos. Para pengusaha tersebut diperkenalkan dengan Laos secara lebih mendalam di pertemuan ini, sehingga akan muncul ketertarikan untuk melakukan investasi.

Youtube Channel