Indonesia and Laos

Last Updated on 12 October 2014

Kerja sama Indonesia dan Laos


Hubungan diplomatik Indonesia dan Laos telah terjalin sejak tanggal 30 Agustus 1957 dan sejauh ini tidak ada isu bilateral yang mengganjal hubungan kedua negara. Keeratan hubungan kedua negara terlihat dari meningkatnya frekuensi saling kunjung pejabat tinggi kedua negara dan saling dukung posisi dan pencalonan masing-masing di berbagai lembaga internasional.

Pemerintah Laos sangat menghargai sikap dan bantuan Pemerintah RI semasa perjuangan kemerdekaan dan dukungan kuat Indonesia terhadap Laos menjadi anggota ASEAN. Sikap tersebut ditunjukkan melalui pembentukan Lao-Indonesia Friendship Association pada tanggal 21 Mei 2008, yang berada di bawah naungan Komite Sentral Partai Revolusioner Rakyat Laos yang susunan pengurusnya terdiri dari kalangan diplomat, pejabat pemerintah, tokoh masyarakat dan kalangan bisnis.

Pada tanggal 17 Januari 2011 di Yogyakarta telah diselenggarakan Pertemuan Ke-3 Joint Commission for Bilateral Cooperation (JCBC) RI - Laos. Pada pertemuan tersebut Menteri.

Luar Negeri RI Dr. R.M. Marty M. Natalegawa dan Deputi PM dan Menteri Luar Negeri Dr. Thongloun SISOULITH telah menandatangani Persetujuan RI – Laos tentang Pembebasan Visa Bagi Pemegang Paspor Biasa yang telah berlaku sejak tanggal 23 September 2011. Pertemuan JCBC berikutnya akan diadakan di Laos tahun 2013.  

Terselenggaranya kunjungan resmi Perdana Menteri Laos, Y.M. Thongsing THAMMAVONG ke Indonesia tanggal 9 Mei 2011 merupakan momentum baru bagi peningkatan hubungan persahabatan dan kerjasama kedua negara. Dalam pertemuan bilateral, pemimpin kedua negara telah membahas berbagai aspek hubungan dan kerjasama bilateral kedua negara. Pada kesempatan itu P.M. Laos mengajak Pemerintah RI dan kalangan swasta untuk turut ambil bagian dalam proses pembangunan Laos, ajakan mana disambut baik oleh Presiden RI, yang pada kesempatan itu juga menyatakan kesediaannya memenuhi untuk menghadiri KTT ASEM bulan November 2012.

Di bidang pertahanan, terdapat kemajuan dalam kerjasama antara Kementerian Pertahanan kedua negara. Dalam rangka pengembangan kapasitas aparat militer Laos, Pemerintah RI memberikan beasiswa kepada para perwira menengah Angkatan Bersenjata dan kepolisian Laos untuk berpartisipasi pada Kursus Lemhannas, Sesko TNI dan kursus bahasa Indonesia di KBRI.

Di bidang keamanan kedua negara terus meningkatkan kerjasama antara kepolisian kedua negara dalam menanggulangi kejahatan lintas batas, khususnya terorisme, narkotika melalui penguatan penegakan hukum dan pelatihan intelejen. Dalam kaitan ini, pada tanggal 10 Oktober 2011 kepolisian kedua negara telah menandatangani MOU on Cooperation in Combating Transnational Crimes and Developing Capacity Building serta bertekat melaksanakan secara sungguh-sungguh MOU on the Cooperation in Narcotic Drugs, Psychotropic Substances and Precursor Chemical Control. Dalam hubungan ini sejumlah aparat kepolisian Laos telah pula mengikuti pelatihan yang diadakan oleh Jakarta Center for Law Enforcement Cooperation (JCLEC).

Nilai perdagangan Indonesia - Laos relatif masih kecil. Neraca perdagangan kedua negara tahun 2011 mencapai US$. 9.89 juta juta yang terdiri dari ekspor US$. 8,61 Juta dan Impor US$. 1,29 juta. Pada semester Pertama 2012 (Januari-Juni 2012) nilai perdagangan kedua negara mencapai US$.21.25 juta meningkat sebesar 307.9% dibanding periode yang sama tahun 2011 sebesar US$.5.2 juta. Komoditi ekspor Indonesia adalah barang modal, obat-obatan, kendaraan dan suku cadang, elektronik dan pakaian jadi. Impor Indonesia dari Laos antara lain kopi, produk pertanian, herbal medicine, hasil industri. Perdagangan Indonesia – Laos umumnya dilakukan melalui negara ketiga yaitu Thailand dan Vietnam. Sejauh ini pengusaha Indonesia yang sudah mendapat persetujuan investasi di Laos adalah Salim Group di bidang pabrik gula di Provinsi Savannakhet.

Kendala yang dihadapi dalam mengembangkan hubungan dan kerjasama ekonomi kedua negara antara lain bentuk geografis Laos yang landlocked, tidak adanya penerbangan langsung antara kedua negara, kurangnya informasi mengenai potensi yang dimiliki, rendahnya daya beli rakyat Laos, serta ketatnya persaingan yang harus dihadapi Indonesia melawan Thailand dan Vietnam.

Untuk menjajagi pangsa pasar ekspor Indonesia ke Laos, KBRI Vientiane terus melakukan promosi melalui kegiatan Business Meeting serta memberikan dukungan fasilitasi bagi perusahaan-perusahaan Indonesia yang datang ke Laos. Laos mengakui bahwa Indonesia memiliki produk-produk unggulan yang sangat dibutuhkan Laos, antara lain migas, CPO, suku cadang kendaraan/mesin dan bahan bangunan.

Guna mendorong kerjasama kedua negara, pada tahun 2011 kedua negara telah menandatangani “Agreement for the Avoidance of Double Taxation and the Prevention Fiscal Evasion With Respect to Taxes on Income” (2011).

Di bidang sosial-budaya Pemerintah Indonesia menitikberatkan bantuannya pada peningkatan kapasitas SDM Laos melalui bantuan beasiswa kepada WN Laos untuk mengikuti program-program pendidikan dan pelatihan teknis di Indonesia termasuk keikutsertaan diplomat Laos pada diklat yang diadakan Pusdiklat Kemlu. Kerjasama bidang pendidikan paling menonjol

dalam kerjasama kedua negara.

Sejak tahun 2006 Pemerintah RI telah memberikan sejumlah beasiswa dan pelatihan teknis kepada WN Laos yang terdiri dari beasiswa Darmasiswa 49 orang; Beasiswa Program Master (S-2) 49 orang; Beasiswa Seni Budaya Indonesia (BSBI) 8 orang; ASEAN+3 sebanyak 3 orang; dan pelatihan teknis di berbagai bidang kepada 86 peserta dari Laos. Selain itu, Pemerintah RI juga telah memberikan bantuan teknis kepada Laos yakni pelatih ukir kayu (2008) pelatih silat (2007&2009) dan Kempo (2010-2011) dan bulan September 2012 kembali mengirim pelatih silat untuk atlit Laos menghadapi Kejuaraan Dunia (November 2012) dan ASEAN University Games (Desember 2012).

Eratnya hubungan persahabatan kedua negara ditunjukkan dengan pemasangan Gong Perdamaian Dunia pada tanggal 22 November 2008 di area monumen Patouxay (Victory Gate) yang merupakan landmark utama kota Vientiane dalam suatu upacara meriah yang dipimpin langsung oleh Wapres Laos, Y.M. Bounnhang VORACHITH, dan dihadiri petinggi pemerintah, pimpinan parlemen, korps diplomatik dan masyarakat luas.

Jumlah WNI yang tinggal di Laos tercatat sebanyak 220 jiwa, yang tersebar di beberapa propinsi di Laos dan umumnya adalah tenaga kerja formal di sektor pertambangan, industri kayu, organisasi internasional, ekspatriat dan Staf KBRI Vientiane.

Sejak dibukanya hubungan diplomatik RI – Laos 57 tahun yang lalu, hubungan kedua negara terus berkembang. Di bidang politik dan bidang sosial budaya hubungan ini cukup erat, solid dan yang menonjol diantaranya adalah kerjasama pendidikan. Sementara kerjasama di bidang ekonomi, investasi dan pariwisata lebih perlu ditingkatkan.

Sebagai negara LDC, kemampuan Laos untuk mengembangkan potensinya masih sangat terbatas dan sangat tergantung pada bantuan negara/lembaga donor, dan karenanya pada saat ini sulit bagi Laos berinvestasi di luar negeri. Untuk itu perlu mendorong para pelaku bisnis Indonesia termasuk pemerintah untuk berinvestasi di Laos, terutama di sektor pertanian, PLTA, infrastruktur, telekomunikasi dan pelayanan kesehatan.

Untuk lebih memantapkan kehadiran Indonesia di Laos, ke depan perlu kiranya dipertimbangkan memberi beasiswa pendidikan yang dialokasikan secara khusus kepada Laos dalam jumlah yang lebih besar dan bervariasi, baik untuk jenjang pendidikan bergelar (S1 s.d. S3) maupun non-gelar.

Youtube Channel